ABJEKSI TAK TUNTAS: RESPONS DEJECT TOKOH AJO KAWIR DALAM NOVEL EKA KURNIAWAN
DOI:
https://doi.org/10.36232/frasaunimuda.v7i2.6300Keywords:
abjeksi, deject, Eka Kurniawan, jouissance, Julia Kristeva, sublimasiAbstract
Impotensi tokoh Ajo Kawir dalam novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan selama ini dibaca sebagai sesuatu yang menimpa dirinya, baik sebagai akibat trauma menyaksikan kekerasan seksual, sebagai metafora ketidakberdayaan rakyat kecil, maupun sebagai kekurangan yang dikompensasi melalui kekerasan. Seluruh pembacaan tersebut mengandaikan subjek yang pasif menerima lalu bereaksi, sementara penerapan abjeksi Kristeva dalam kajian sastra Indonesia cenderung mengoperasikannya sebagai marginalisasi sosial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konstruksi abjeksi pada diri Ajo Kawir beserta posisinya sebagai deject, dan mendeskripsikan respons yang ia lakukan dari posisi tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan abjeksi Julia Kristeva, teknik pembacaan simptomatik, serta klasifikasi data ke dalam empat kategori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa impotensi Ajo Kawir merupakan jejak dari operasi abjeksi yang ia lakukan terhadap dirinya sendiri, yakni pembuangan atas kemungkinan bahwa ia sanggup memerkosa, yang dipicu bukan oleh adegan menonton melainkan oleh perintah untuk menjadi pelaku. Karena yang dibuang merupakan bagian dari dirinya sendiri, operasi itu tidak pernah tuntas dan jejaknya menjadi permanen. Vonis aparat meratifikasi pembuangan tersebut menjadi posisi sosial. Dari posisi deject, Ajo Kawir merespons melalui jouissance dalam perkelahian dan melalui sublimasi berupa penamaan kemaluannya sebagai Si Burung. Bagian penutup novel, yang lazim dibaca sebagai kesembuhan, justru memperlihatkan bahwa abjek tidak lenyap melainkan hanya bergeser dari gejala yang membisu menjadi lawan bicara yang meminta izin untuk tidur.

