OPTIMASI PRODUKSI BIOETANOL DARI LIMBAH AMPAS SAGU (METROXYLON SP) DI PAPUA BARAT DAYA DENGAN ASAM NITRAT
Abstract
Provinsi Papua Barat Daya sebagai salah satu provinsi yang memiliki luas lahan sagu terbesar kedua setelah Provinsi Papua memiliki beberapa aksesi sagu yang produktivitasnya di atas 200 kg per tahun. Limbah ampas sagu berpotensi
sebagai sumber selulosa. Ampas sagu memiliki kandungan ekstraktif 8,26%, lignin 42,021%, holoselulosa 47,072%, α-selulosa 24,564% dan hemiselulosa 22,508%. Bioetanol (C2H5OH) merupakan salah satu sumber bahan bakar alternatif yang diolah dari tumbuhan, dengan keunggulan mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18%. Untuk membuat bioetanol dari ampas sagu melalui beberapa proses, yaitu pre-treatment ampas sagu, pre-treatment ampas sagu dengan NaOH, hidrolisis, fermentasi, pemisahan dengan destilasi, dan tahap yang terakhir yaitu analisis menggunakan uji GC. Berdasarkan hasil yang diperoleh pengaruh pre-treatment terhadap kadar lignin dan selulosa diperoleh bahwa kadar lignin mengalami penurunan sebesar 14,552% dan kadar selulosa naik sebesar 4,104%. Konsentrasi hidrolisis Asam Nitrat (HNO3) menghasilkan yield glukosa tertinggi pada variasi konsentrasi 3M sebesar 90%. Sedangkan pada konsentrasi 1M dan 2M yield-nya sebesar 75% dan 65%. Konsentrasi hidrolisis Asam Nitrat(HNO3) juga mempengaruhi konversi bioetanol dimana konversi tertinggi pada variasi konsentrasi 3M sebesar 44,44%. Sedangkan pada konsentrasi 1M dan 2M konversinya sebesar 33,33% dan 23,08%. Pada proses produksi bioetanol diperoleh kondisi optimum yaitu pada ukuran ayakan 100 mesh, konsentrasi hidrolisis HNO3 3M pada suhu 100◦C selama 3 jam diperoleh yield sebesar 90%, fermentasi pada hari ke-5 mendapatkan konversi bioetanol sebesar 44,44% dengan kadar bioetanol sebesar 7,088% (v/b) pada HNO3 3M.